Kamis, 30 Oktober 2014

الحـديث الثاني

الحـديث الثاني

HADITS Kedua

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ . قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ . رواه مسلم

Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah  suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah  ) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada ilah (tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“. Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata: “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda: “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “. (Riwayat Muslim)

Selasa, 28 Oktober 2014

الحديث الأول

الحــديث الأول

HADITS Pertama

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِيْ حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ . رواه إماما المحدثين أبو عبد الله محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah  bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan( ) tergantung niatnya( ). Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas)berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya ( ) karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi dan kedua kita Shahihnya yang merupakan kitab yang paling shahih yang pernah dikarang) .

Kamis, 06 Maret 2014

Hadits

Sahabat Mu’adz bin Jabal RA menyampaikan bahwa ketika beliau sedang bersama Rasulullah SAW, Rasulullah SAW menyampaikan sebuah hadits yang sangat ditekankan untuk diperhatikan sehingga beliau sampai bersabda,“Aku sampaikan sebuah hadits yang apabila kamu pelihara (apabila kamu perhatikan), maka bermanfaat bagimu dan apabila kamu sia-siakan (apabila kamu sepelekan), maka kamu tidak akan punya hujjah (tidak akan punya alasan), di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla”. Rasulullah SAW menyampaikan bahwa Allah SWT menciptakan tujuh Malaikat dan tujuh langit, satu Malaikat menjadi penjaga pintu dari satu langit. Malaikat tersebut akan memeriksa setiap orang yang amalnya diangkat ke langit oleh Malaikat Hafadzoh. LANGIT PERTAMA Ada amal yang bersinar bagaikan matahari dan Malaikat Hafadzoh yang membawanya memuji banyak dan bersihnya amal tersebut, Malaikat penjaga pintu langit pertama menghentikannya seraya berkata,“Tamparkan amal ini pada wajah pelakunya..!!, aku pemeriksa ghibah, aku diperintahkan Allah untuk tidak membiarkan amal para pelaku ghibah untuk melewatiku (aku diperintahkan Allah untuk tidak membiarkan amal orang yang suka menceritakan kejelekan orang lain untuk melewatiku)” LANGIT KEDUA Ada amal lain yang berkilauan cahayanya, banyak dan dipuji oleh Malaikat Hafadzoh yang membawanya. Amal ini berhasil melewati langit pertama karena pelakunya tidak pernah menceritakan keburukan orang lain. Tetapi ketika sampai di pintu langit kedua, penjaga langit kedua menghentikan seraya berkata,“Berhenti, tamparkan amal ini ke wajah pelakunya..!!, sesungguhnya ia punya maksud duniawi dengan amalnya (ia mengejar kekayaan, ia mengejar kekuasan dengan amalnya) aku diperintahkan Allah tidak membiarkan amalnya melewatiku” Dilaknatlah pelakunya oleh para Malaikat sampai sore hari. LANGIT KETIGA Ada lagi Malaikat Hafadzoh yang naik ke langit dengan membawa amal yang sangat memuaskan, penuh oleh sedekah, puasa dan bermacam-macam kebaikan yang Malaikat Hafadzoh memuji dan menganggap sedemikian banyaknya. Langit pertama dan kedua terlewati, tapi begitu sampai ke langit ketiga, Malaikat Penjaga pintu langit ketiga berkata,“Berhenti, tamparkan amal ini ke wajah pelakunya..!!, saya Malaikat pemeriksa kibr (kesombongan), aku diperintahkan Allah tidak membiarkan amalnya melewatiku, karena ia seorang yang takabbur – seorang yang sombong pada orang lain di lingkungannya - ia merasa dirinya lebih dari yang lain”. LANGIT KEEMPAT Ada lagi amal yang dibawa naik oleh Malaikat Hafadzoh. Amal itu bersinar bagaikan bintang yang paling besar, suaranya bergemuruh, penuh dengan tasbih, dengan puasa, shalat, hajji dan umroh. Begitu sampai ke langit yang keempat, Malaikat Penjaga pintu langit keempat itu berkata,“Berhenti, tamparkan amal ini ke wajah pelakunya..!!, saya Malaikat pemeriksa ‘ujub – pemeriksa rasa bangga diri, yeuh aing, aku diperintahkan Allah tidak membiarkan amalnya lewat, sebab jika dia beramal, dia selalu ‘ujub.” LANGIT KELIMA Ada lagi Malaikat Hafadzoh naik dengan membawa amal seorang hamba yang diiring, diantar seperti pengantin. Amalnya begitu bagus, seperti jihad, ibadah hajji dan umroh, cahayanya pun berkilauan bagaikan matahari. Ketika sampai di langit kelima, Malaikat Penjaga pintu langit kelima berkata,“Saya Malaikat pemeriksa hasud (iri / dengki), dia suka hasud kepada orang lain yang mendapat nikmat Allah – ia iri, ia dengki pada orang lain, dia itu benci pada yang membuat Allah ridho. Aku diperintahkan Allah tidak membiarkan amalnya lewat”. LANGIT KEENAM Ada Malaikat Hafadzoh yang naik dengan membawa amal yang lain, membawa wudu yang sempurna, shalat yang banyak, puasa, hajji, umroh. Namun, ketika sampai ke langit yang keenam, Malaikat Penjaga pintu langit keenam berkat,“Saya Malaikat pemeriksa rahmat – pemeriksa kasih sayang, tamparkan amal yang nampaknya bagus ini ke wajah pelakunya, ia tidak pernah mengasihi orang lain, apabila ada orang yang mendapatkan musibah, maka dia merasa senang. Aku diperintahkan Allah tidak membiarkan amalnya lewat”. LANGIT KETUJUH Ada pula Malaikat Hafadzoh yang naik ke langit dengan membawa amal hamba berupa bermacam-macam sedekah, puasa, shalat, jihad dan waro’. Suara amal itu bergemuruh bagaikan guntur, cahayanya pun bagaikan petir. Ketika sampai ke langit yang ketujuh, Malaikat Penjaga pintu langit ketujuh berkata,“Saya pemeriksa sum’ah (pemeriksa rasa ingin mashur dan populer), sesungguhnya pemilik amal ini ingin termashur dalam kumpulan-kumpulan, selalu ingin tinggi diantara kawan-kawannya dan ingin mendapat pengaruh di hadapan para tokoh. Aku diperintahkan Allah tidak membiarkan amal itu lewat. Tiap-tiap amal yang tidak bersih karena Allah, maka itulah riya. Allah tidak menerima dan tidak mengabulkan amal orang-orang riya”. DI HADHROTULLOH (DI HADAPAN ALLAH) Ada pula Malaikat Hafadzoh yang naik dengan membawa amal hamba, yakni shalat, zakat, puasa, hajji, umroh, akhlak terpuji dan pendiam tidak banyak omong serta penuh dzikir kepada Allah Yang Maha Tinggi, lolos melewati ketujuh langit. Kemudian diiring oleh Malaikat ketujuh langit sehingga sampai menerobos hijab-hijab dan sampai ke hadirat Allah Yang Maha Suci. Para Malaikat berdiri di hadapan Allah jalla jalaluh. Semua bersaksi bahwa amal ini adalah amal yang shalih dan diikhlaskan karena Allah. Tapi, Allah Yang Maha Tinggi berfirman,“Kalian Hafadzoh, pencatat amal hamba-Ku, sedang Akulah yang mengawasi hatinya. Amal ini tidak karena Aku, yang dimaksudkan olehnya adalah selain dari-Ku, tidak diikhlaskan kepada-Ku. Aku lebih mengetahui apa yang dimaksud olehnya dengan amal itu. Aku laknat ia, ia menipu manusia dan menipu kalian, tapi Aku tak tertipu olehnya. Akulah Yang tahu akan segala yang gaib. Akulah yang melihat isi hatinya. Tidak samar bagi-Ku apapun yang samar. Tidak tersembunyi bagi-Ku apapun yang tersembunyi. Ilmu-Ku terhadap yang terjadi sebagaimana ilmu-Ku terhadap yang akan terjadi. Ilmu-Ku terhadap yang lalu se-bagaimana ilmu-Ku terhadap yang akan datang. Ilmu-Ku terhadap mereka yang terdahulu sebagaimana ilmu-Ku terhadap mereka yang kemudian. Aku mengetahui yang rahasia dan yang samar. Bagaimana hamba-Ku dapat menipu-Ku dengan amalnya ? Dia hanyalah bisa menipu makhluk-makhluk yang tidak tahu, sedangkan Aku Yang mengetahui segala yang gaib. Laknat-Ku tetap baginya.” Berkata Malaikat ketujuh langit dan 3000 Malaikat yang mengiringinya,“Ya Tuhan kami tetap baginya laknat-Mu dan laknat kami semua.” Berkata pula penghuni langit,“Tetap baginya laknat Allah dan laknat mereka yang melaknat.” MENYELAMATKAN DIRI Ketika mendengar hadits ini Sohabat Mu’adz bin Jabal ra menangis terisak-isak dan berkata,“Ya Rasulallah, bagaimana aku bisa selamat dari yang barusan diceritakan ?” Rasulullah SAW bersabda,“Hai Mu’adz, ikutilah Nabimu dalam soal keyakinan..!!” Sahabat Mu’adz bin Jabal ra. bertanya kembali,“Engkau adalah Rasulullah, sedangkan saya ini hanya si Mu’adz bin Jabal. Bagaimana saya bisa selamat dan bagaimana bisa terlepas dari bahaya tersebut ?” Rasulullah menjawab,“Begitulah wahai Mu’adz. Seandainya dalam amalmu ada kelengahan dan kekurangan, maka : • Tahanlah lisanmu dari menjelekkan orang lain, terutama menjelekkan para ulama – para ahli Al-Quran. • Tolaklah keinginan menjelekkan orang lain dengan mengingat kejelekan dirimu sendiri. • Jangan membersihkan dirimu sendiri dengan menjelekkan orang lain. • Jangan mengangkat dirimu dengan merendahkan, menekan dan menjatuhkan orang lain. • Jangan pamerkan amalmu agar diketahui orang lain. • Jangan mengurusi dunia sehingga melupakan urusan akhirat. • Jangan berbisik dengan seseorang ketika ada orang lain. • Jangan takabbur kepada orang lain, nanti luputlah kebaikanmu di dunia dan akhirat. • Jangan berkata kasar di majlis sehingga orang takut terhadap keburukan akhlakmu. Jangan mengungkit-ungkit kebaikan pada orang lain. • Jangan merobek-robek orang lain dengan lisanmu, nanti kamu dirobek-robek anjing-anjing Jahannam, sebagaimana firman Allah Ta’ala :“wan nasyitoti nasyto” (di neraka itu ada anjing-anjing perobek badan-badan manusia), yaitu mengoyak-ngoyak daging dari tulangnya". Sohabat Mu’adz bin Jabal bertanya kembali,“Ya Rasulallah, siapa yang yang kuat menanggung penderitaan seperti ini ? Rasulullah menjawab,“Wahai Mu’adz, yang aku ceritakan tadi padamu itu akan mudah bagi mereka yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala. Cukuplah bagimu MENCINTAI ORANG LAIN sebagaimana MENCINTAI DIRIMU SENDIRI dan BENCILAH UNTUK ORANG LAIN apa yang KAMU BENCI untuk DIRIMU SENDIRI. Bila engkau demikian niscaya dirimu akan SELAMAT dan TERHINDAR.” *Diterjemahkan dari Kitab Bidaayah Alhidaayah Karya Imam Ghozali

Sabtu, 23 November 2013

Uktum Hawana (Ya Robba Makkah) Di dalam qashidah “Uktum Hawana” karya Syekh Abubakar bin Salim, terdapat bait-bait berikut ini: “Simpanlah apa yang aku senangi, jika kamu mengharapkan ridhaku. Jangan sampai disebar-sebarkan rahasiaku kepada orang selain kami.” Kami di sini yang dimaksud adalah para auliya’. Dan Syekh Abubakar bin Salim adalah pemimpinnya. “Kamu harus tawadhu’ kepada kami kalau kamu ingin berhubungan dengan kami. Tinggalkan segala keinginan kamu kalau kamu ingin keinginanku.” Jadi di hadapan auliya’ harus kosong, tidak ada kesombongan (kibr) sedikitpun, harus tawadhu’ Jangan ingin macam-macam, yang akhirnya kamu tak mendapatkan berkah. “Baghoina fulus, baghoina tajir, ingin uang banyak”. Jangan minta apa-apa! Nanti dia akan mengisi sebagaimana yang dia harapkan. Harapan kamu itu harapan remeh, sedangkan harapan dia untuk kamu adalah harapan yang besar. Jangan kamu berharap bagaimana kamu dapat uang banyak, rizkinya banyak, dll. Kosongkan hati kamu, baru nanti akan diisi asrar oleh mereka. Kenapa? Harapan dia untuk diri kamu, yang diharapkan oleh auliya’, yang diinginkan auliya’ untuk diri kamu itu lebih besar dari apa yang diharapkan kamu untuk diri kamu. Jadi di hadapan mereka mestinya diam saja. Lebih baik kamu jadi tong kosong. Tong kosong tapi jangan nyaring bunyinya. Jadi perlu untuk farogh, perlu bersih hati, jangan berharap apa-apa. Saya ingin ini, ingin itu, tidak usah kepingin sudah. Buang itu kepingin, tapi katakan dalam hati kamu: “Saya ingin yang diingini oleh wali ini. Saya ingin apa yang diingini oleh orang ‘arif ini”, niscaya kamu akan sampai seperti mereka nanti. (Dikutip dari Rouhah al-Habib Taufiq bin Abdulqadir Assegaf Pasuruan) Berikut teks qosidah Uktum Hawana (Ya Robba Makkah) karya Al Imam Fakhrul Wujud Syeikh Abu Bakar bin Salim: أکتم هوانا إن أردت رضانا ، واحذر تبيح بسرنا لسوانا Uktum hawânâ in arodta ridlônâ, wahdzar tubîhu bisirrinâ lisiwânâ Simpanlah kecintaanmu kepada kami jika kau menghendaki keridhoan kami, dan janganlah kau sebarkan rahasia kami kepada selain kita. واخضع لنا إن کنت راجي وصلنا ، واترك مناك إن أردت منانا Wakhdlo’ lanâ in kunta rôjiya washlinâ, watruk munâka in arodta munânâ Tunduklah kepada kami bila kau ingin berjumpa kami, dan tinggalkan cita citamu, bila kau ingin mendapat cita cita kami. أوما علمت بأننا أهل الوفا ، ومحبنا ما زال تحت لوانا Awamâ ‘alimta bi-annanâ ahlul wafâ wa muhibbunâ mâ zâla tahta liwânâ Tahukah kalian, bahwa sesungguhnya kami menepati janji? Dan para pencinta kami akan berada di bawah bendera kami. نحن الکرام فمن أتانا قاصدا ، نال السعادة عندما يلقانا Nahnul kirômu faman atânâ qôshidân, nâlas-sa’âdata ‘inda mâ yalqônâ Kami adalah kelompok orang yang mulia, maka barang siapa datang kepada kami dengan tujuan yang benar, pasti kan peroleh kebahagiaan ketika berjumpa dengan kami. هاموا بعشقتهم سگاری عندما ، کشف الحجاب وشاهدوا مغنانا Hâmû bi’isyqotihim sukârô ‘inda mâ kusyifal hijâbu wa syâhadû maghnânâ Mereka akan terpesona , dan mabuk dengan kerinduan ketika hijab telah tersingkap dan mereka melihat kekayaan kami. فهم المراد ولا يراد سواهم ، فالقلب مشتغل بهم ولهانا Fahumul murôdu walâ yurôdu siwâhumu fal qolbu musytaghilun bihim wal hânâ Merekalah yang dikehendaki Allah, dan Allah tidak menghendaki selain mereka, maka semua hati akan sibuk dan bingung memikirkan mereka. کرر لسمعی ذکرهم وحديثهم ، تعمل معی بحياتهم إحسانا Kurrir lisam’î dzikro-hum wa hadîtsahum ta’mal ma’î bihayâtihim ihsânâ Ulang ulangilah dalam menyebut mereka agar kau dapat beramal bersamaku, untuk berbuat baik kepada mereka dan mengenang kehidupan mereka. يارب مکة والصفا بمحمد ، إغفرلنا ياسامعا لدعانا Yâ robba Makkata wash-shofâ bi Muhammadin ighfir lanâ yâ sâmi’ân lidu’ânâ Wahai Tuhan pemilik Mekkah dan bukit Shofa, berkat Nabi Muhammad, ampunilah kami, wahai Yang Mendengar doa doa kami. ثم الصلاة علی النبی وآله ، ماحرکت ريح الصبا أغصانا Tsummash-sholâtu ‘alân-nabî wa ãlihî mâ harrokat rîhush-shobâ aghshônâ Kemudian berikanlah sholawat kepada Nabi dan keluarganya, selama angin berhembus dan menggoyangkan dahan dahan pepohonan.

Senin, 22 April 2013

MIRQOTU SHU'UDIT TASHDIQ

MIRQOTU SHU'UDIT TASHDIQ (Syekh Nawawi Al-jawi) FII SYARHI SULLAMUT TAUFIIQ ILAA MAHABBATILLAHI 'ALAT TAHQIQ (Sayyid Abdullah bin Husain bin Thohir ba 'alawi)
(BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIM)
Dengan menyebut setiap Nama dari Nama-Nama Allah yang disifati dengan segala sifat kesempurnaan, aku mengarang kitab ini.
''Adapun Allah adalah sebuah nama bagi Dzat yang wujud,yang wajib wujud-Nya, yang disifati dengansifat-sifat kesempurnaan ,lagi maha suci dari sifat-sifat tercela. Tidak ada sekutu bagi-Nya di antara segenap makhluk cipataan''
Adapun ucapanku (syeikh nawawie): ''wajib wujud-Nya'', adalah untuk menolak kalangan orang yang mengatakan: ''sesungguhnya Allah adalah jisim'', karna sesungguhnya apabila Allah jisim, maka Allahmenjadi Dzat yang mungkin wujud-Nya.
Dan ucapanku:''disifati dengan semua sifat kesempurnaan'', adalah untuk menolak kalangan al-Mu'atholin, kalangan yang menolak sifat-sifat ma'ani bagi Allah.
Dan ucapanku:''Maha Suci dari sifat-sifat tercela'',sebagai penolakan terhadap siapa saja yang men-sifati Allah ta'ala dengan berbagai sifat kekurangan.
Dan ucapanku:''tidak ada sekutu bagi-Nya diantarasegenap makhluk ciptaan'',adalah penolakan atas kalangan Al-Qadariya yang berpendapat: sesungguhnya seorang hamba menciptakan sendiri berbagai perbuatannya yang bersifat ikhtiriya.
Ar-Rahman adalah dzat yang melimpahkan anugrah yang besar.
Ar-Rahim adalah Dzat yang melimpahkan anugrah yang halus.
(ALHAMDULILLAHI RABBIL 'ALAMIN)
(SEGALA PUJI) yakni sanjungan dengan segala kesempurnaan.
(HANYA MILIK ALLAH), karna sesungguhnya kesempurnaan adakalanya Qodim (Dahulu tanpa permulaan) yaitu sifat Allah, dan adakalanya Hadist(baru, memiliki permulaan), yaitu perbuatan Allah.
(DZAT YANG MEMELIHARA ALAM SEMESTA), yakni seluruh makhluk.
Sebagaimana firman Allah ta'ala: QOLA FIR'AUNU WA MAA ROBBUL 'ALAMIINA QOOLA ROBBUS SAMAWAATI WAL ARDHI WA MAA BAINAHUMA...
''fir'aun bertanya: siapa Tuhan semesta alam itu? Musa menjawab: Tuhan pencipta langit dan bumi dan apa-apa yang ada diantara keduanya (itulah Tuhanmu),.... (qs: Asy-Syu'aro:23-24)
Dan tidak seorangpun yang dapat menghitung bilangan isi seluruh alam raya kecuali Allah ta'ala.
....WA MAA YA'LAMU JUNUDA ROBBIKA ILLA HUWA...
''Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia Sendiri'' (qs: Al-Muddatstsir:34)
Hal ini (perkataan pengarang Bismillah sampai Rabbil 'Alamin) iqtibas (dikutip penuh) dari surat Al-Fatihah.
Maka tidak ada yang lebih Afdhol dari pengutipan itu, karna keberadaanya berasal dari pengajaran Allah ta'ala, dan karna itulah beliau memilihnya.
faidah: pembagian pujian ada 4 yaitu:
1.''Hamdu Qodiim li qodiim'' yaitu pujian Allah atas Dzat-Nya...seperti firman-Nya: ''Ni'mal maulaa wan ni'mam nashiir''
Dialah sebaik-baik Tuhan dan sebaik-baik penolong. (qs. Al-Anfaal:40)
2.''Hamdu qodiim lihaadist'' yaitu pujian Dzat yang Qadiim kepada makhluk, seperti pujian-Nya kepada sebagian hamba-Nya dalam firman-Nya: ''....Ni'mal abdu innahu awwab''
''dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat ta'at (kepada Tuhannya) (Qs:Shaad:30)
3.''hamdu hadist liqodiim'' yaitu pujian makhluk kepada Dzat yang Qadiim (Allah), adalah pujian kita kepada Allah 'Azza wa Jalla, seperti ucapan kita ''Al-Hamdulillah''
4.''hamdu hadist li hadist'' yaitu pujian sebagian makhluk kepada sebagian lainnya, seperti ucapan kita: ''ni'mar rojulu zaidun'' (sebaik-baiknya pria adalah zaid).
(WA ASYHADU AN LAA ILAHA ILLALLAH WAHDAHU LAA SYARIKA LAHU, WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN'ABDUHU WA RASULUHU WA'ALA ALIHI WA SOHBIHI WA TAABI'INA)
(DAN AKU BERSAKSI) yakni berikrar dan membenarkan
(BAHWA TIDAK ADA TUHAN) yakni tidak ada tuhan yg patut disebah dengan sebenarnya,yang mungkin,
(KECUALI ALLAH YANG MAHA ESA) yakni sang Maha Esa pada Dzat-Nya, dan perbuatan-perbuatan-Nya
(TIDAK ADA SEKUTU) yakni tidak ada sesuatu yang menyekutui
(BAGI-NYA) pada hal-hal itu (Dzat, sifat dan perbuatan-Nya)
(DAN AKU BERSAKSI SESUNGGUHNYA) baginda kita (MUHAMMAD) saw. (ITU HAMBA ALLAH) ta'ala
mengenai disifati sebagai hamba Allah pada Nabi, terdapat isarat perihal sifat merendah, rendah hati, dan pengabdian, yang sesuai bagi kedudukan Nabi saw.
Dan sifat tersebut (sebagai hamba Allah) adalah sifat manusia yang paling mulia, walaupun ia seorang yang merdeka, karna itu Nabi saw. Layak diberikan sifat tersebut dalam derajat tertinggi.
Sebagaimana terdapat dalam firman Allah: SUBHANAL LADZI ASROO BI 'ABDIHI...
Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya....(qs:al-Isro:1)
Dan firman-Nya: TABARAKAL LADZI NAZZALAL FURQOON 'ALA 'ABDIHI..
''Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqon (Al-Qur'an) kepada hamba-Nya....(qs:Al-Furqon:1)
Dan firman-Nya pula: FA AUHAA ILAA ABDIHI MAAAUHAA...
''lalu Dia menyampaikan wahyu kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan (qs: An-Najm:10)
Pada idhofah lafadz ''ABD'' kepada Dhomir (ALLAH), terselip pengertian kemulian yang paling kuat dan paling tingginya kemuliannya (pada diri Nabi saw).
Sebagian ulama mengatakan: ''sesungguhnya Allah ta'ala telah memilih kata ''ABD'' (hamba) itu untuk Nabi-Nya, agar umat beliau saw. Tidak tersesat dengan keyakinan mereka terhadap beliau akan sesuatu yang tidak layak (terhadap diri beliau), sebagaimana yang terjadi pada kaum Nabi Isa as.
Demikian faidah syekh Al-Qolyubiy.
(DAN UTUSAN-NYA) dengan pengutusan yang menyeluruh untuk segala waktu dan tempat bagi seluruh makhluq.
Faidah: didahulukan lafadz''Abd''karna mengamalkanhadist''WA LAKIN QULUU ABDALLAHI WA ROSULAHU''(is'adu rofiiq termasuk syarah sulamut taufiq).
(SEMOGA ALLAH MENCURAHKAN RAHMAT DAN KESEJAHTRAAN KEPADA BELIAU DAN ATAS KELUARGA BELIAU).
Kemungkinan yang dimaksud pengarang (sayyid'abdullah bin husein) dengan''Keluarga Nabi''adalah para kerabat secara mutlak (seluruh orang islam), atau orang (kerabat beliau) yang haram menerima zakat atasnya, lantaran pengarang menyebut tabi'in setelah menyebutkan hal itu (Keluarga).
(DAN PARA SAHABAT BELIAU)
Para sahabat adalah setiap muslim yang pernah bertemu dengan Nabi Muhammad saw. Walaupun sekejap.
(DAN PARA TABI'IN)
Yakni mereka yang mengikuti kepada para sahabatNabi, walaupun hanya ikut dalam hal keimanan saja.
Maka termasuk tabi'in walaupun dia melakukan ma'siat.
Dan tujuan rangkaian sholawat ini adalah pemerataan dalam Do'a, karna sesungguhnya meratakan do'a adalah do'a yang paling afdhol.
Diriwayatkan bahwasannya Nabi saw. Perna menepuk pundak seorang yang berdo'a:''Ampunilahaku dan kasihanilah aku'', kemudian beliau bersabdakepada orang tersebut:''ratakanlah dalam do'amu, karna sesungguhnya antara do'a yang khusus dan do'a yang umum (terdapat selisih derajat), sebagaimana (selisih derajat) antara langit dan bumi''
(nb:maksud ratakanlah do'a..adalah do'a yang menyeluruh lebih afdhol dari pada berdo'a untuk diri sendiri)
(ADAPUN SETELAH ITU)
Yakni adapun setelah membaca basmalah,hamdalah,syahadah,sholawat dan salam.
(MAKA INI) matan yg ada didalam hati (pengarang)
(ADALAH BAGIAN/KITAB YANG KECIL) yakni sesuatu yang kecil lagi bagus.
(SEMOGA MEMUDAHKANNYA) Yakni diberi kemudahan terhadapnya.
(OLEH ALLAH TA'ALA)
Bagi setiap orang yang ingin mempelajarinya dan memahami isinya serta mengamalkan tuntunannya.
(TENTANG SESUATU) Yakni dalam menjelaskan perkara
(YANG WAJIB UNTUK MEMPELAJARINYA) Dari orang yang sudah mengerti.
(DAN MENGAJARKANNYA) Kepada orang yang belum mengerti.
(DAN WAJIB BERAMAL DENGANNYA) Berupa mematuhi perintah dan menjauhi larangan
(BAGI ORANG YANG KHUSUS DAN ORANG AWAM) Yakni bagi orang yang mengerti dan orang yang belum mengerti.
(DAN WAJIB ADALAH SESUATU YANG ALLAH MENJAJIKAN BAGI PELAKUNYA AKAN MENDAPATPAHALA,DAN MENGANCAM BAGI YANG MENINGGALKANNYA DENGAN SIKSAAN).
Definisi mendapatkan siksa tersebut tidak menafikan akan pengampunan dari Allah.
(DAN AKU NAMAKAN MATAN INI SULLAMUT TAUFIQ ILAA MAHABBATILLAHI 'ALAT TAHQIQ) Yakni menurut cara2 yang benar dengan keyakinan penuh.
(AKU MOHON KEPADA ALLAH YANG MAHA DERMAWAN) Yakni Dzat yang tidak mungkin untuk mengaitkan sifat kikir kepada-Nya.
(AGAR ALLAH MENJADIKAN MATAN KECIL INI) terilhamkan (DARI ALLAH) ta'ala bukan dari dorongan hawa nafsu,seperti mencari pujian dari manusia.
(DAN) ikhlas (KARNA ALLAH) ta'ala, bukan karna ingin pamer dan terkenal, Dan menginginkan pada semua yang berada disisi-Nya, berupa ganjaran pahala.
(DAN) sebagai hal yang kembali dan sampai (KEPADA ALLAH) ta'ala dengan mendapat penerimaan-Nya.
(DAN MENJADI PENYEBAB UNTUK SEMAKIN DEKAT KEPADANYA) yakni sebaik2nya tujuan kembali dan berpulang, (DAN MENEMPATI TEMPAT TERDEKAT) yakni kedudukan yang dekatdan tinggi (DI SISI-NYA)
(DAN SEMOGA ALLAH MEMBERIKAN PERTOLONGAN KEPADA SIAPA SAJA YANG MEMPELAJARI KITAB INI, UNTUK MENGAMALKAN SESUAI DENGAN TUNTUNANNYA) Yakni sesuatu yang dituntut dan ditunjukan oleh kitab ini, seperti melaksanakan semua yang wajib dan meninggalkan semua yang diharamkan.
(KEMUDIAN MENANJAK PERLAHAN DALAM RASACINTA) yakni sangat suka (DENGAN PERKARA-PERKARA NAWAFIL) Nafila adalah sebutan bagi sesuatu yang disyariatkan sebagai tambahan dari hal-hal yang wajib (fardhu). Dan nafilah dinamakan juga dengan mandub,mustahab dan tathowwu' (masudnya: nafila,mandub,mustahab,tathowwu',sunnah bermakna sama yaitu sesuatu yang bila dikerjakanmendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak mendapat dosa).
(SUPAYA IA DAPAT MEMPEROLEH CINTA ALLAHDAN PERTOLONGAN ALLAH). Nabi saw. Bersabda: Allah ta'ala berfirman: ''tidak henti-hentinya seorang hamba mendekatkan diri kepada-Ku dengan melakukan amal-amal sunnah hingga aku mencintainya. Lalu apabila Aku telah mencintainya, maka Diri-Ku sebagai pendengarannya, yang ia mendengar dengannya, Dan sebagai pengelihatannya, yang ia melihat dengannya, Dan sebagai lidahnya, yang ia berbicara dengannya, Dan sebagai tangannya, yang ia bertindak dengannya, Dan sebagai kakinya,yang ia berjalan dengannya''. (hr:Bukhari).
Adapun ma'na: ''Diri-Ku sebagai pendengarannya,yang mendengar dengannya...maksudnya adalah ''bahwa Diri-Ku sebagai pemelihara bagi pendengarannya,sehingga ia tidak akan mendengar,kecuali hal-hal yang Aku ridhoi kepadanya. Dan begitu seterusnya (pengertian dari) hal2 setelahnya...Demikian telah dijelaskan hal itu kepada kami oleh guru kamu Syekh Ahmad An-Nahrowiy.

Kamis, 04 April 2013

Madad madad

Habib Syech Bin Abdul Qodir Assegaf
Reff#1
al-Madad, al-Madad,
al-Madad! Ya Rasul Allah!
al-Madad, al-Madad,
al-Madad! Ya Habib Allah!
Robbi faj’al mujtama’nâ
Ghôyatuh khusnul khitâmi
Wa’thinâ mâ qod sa-alnâ
Min ‘athôyâ kal jisâm
(back to #1)
Wakrimil arwaha minnâ
Billiqô khoiril anâm
Wablighil mukhtâro ‘annâ
Min sholâtin wa salâm
(back to #1)
Reff#2
Madad, Madad, Madad 2x
Madad! Ya Rasul Allah!
Madad, Madad, Madad 2x
Madad! Ya Habib Allah!
Sidi Sahiba al-hadra
'akrima minka bi nazra
Sidi ya aba az-Zahra
wa al-Qasim wa 'Abdi-Llah
(back to #2)
Sidi Anta al-habib
bi zikrik qalbi yatib
Sidi hasha yakhib
man laza bi Rasul'Llah
(back to #2)
Sidi Anta al-Mukhtar
bi-majik tujla l-qadar
Sidi ajirna min 'n-nar
bi jahik ya Rasul Allah
(back to #2)
Ya Rabbi bihim wabi
aalihim,
'Ajjil binnashri wa bil
faraji...3x

Rabu, 03 April 2013

Qosidah busyro lana

Qasidah Busyra Lana
بُشـرَ لَــنَا نِلنَــا المُنَــى زَالَ العَنَــاوَافَى الهَــنَا
وَالدَّ هرُ اَنجَـز وَعدَهُ وَالبِشــرُ اَضـحى مُعلَـــنَا
يَا نَفسُ طِيبِـى بِا للِّقَا يَا عَينُ قَــــرِّى اَعيُنَــــا
هَــذَا جَمَــالُ المُصطَفى اَنوَارُهُ لاَ حَـــت لَنَــــا
يَا طَيبَة مَاذَا نَقُــول وَفِيكِ قَد حَلَّ الرَّسُـــول
وَكُلُّنَـــانَ رجُو الوُصُول لِمُحَـــــــمَ ّدٍ نَبِيِّنَا
يَا رَوضَةَ الهَادِى الشّفِيع وَصَاحِبَيهِ وَالبَقيع
اُكتُب لَنَــا نَحنُ الجَمِيع زِيَارَةً لِحَبِيبِنَا
Gembira bagi kami kerana tercapai cita-cita hilang susah datang senang
masa telah menapati janjinya
gembira telah menjadi nyata
Gembira bagi kami kerana tercapai cita-cita
Hilang susah datang senang
Wahai jiwa bahagialah dengan pertemuan
Wahai mata berpuaslah hendaknya
Inilah dia keindahan Nabi
Cahaya telah menyinari kita sekalian
Wahai Madinah apa yang hendak dikata
Sedang dikotamu nabi menetap
Kami sekalian mengharap sampai
kerana nabi kekasih kami.
Wahai makam nabi yang mulia
Duahai sahabatnya dan ahli baqi'
Mudahkan lah Wahai Allah bagi kami sekalian
Ziarah bagi nabi kami